Minggu, 01 September 2013

serba vintage situs purbakala megalitikum Lembah bada sulawesi tengah

  Belum lama ini, saya berkesempatan mengunjungi Taman Nasional Lore Lindu di wilayah Poso Sulawesi Tengah. Selain Taman nasional yang punya hutan rapat lebat alami. saya juga berkesempatan mengunjungi lembah Bada. sebuah lembah yang dikelilingi gunung sehingga kalau di lihat dari tempat yang tinggi bagaikan sebuah penggorengan. di tempat ini yang super subur ini (masyarakat daerah ini dapat menanam padi tanpa pupuk dengan hasil melimpah). saya mengunjungi situs-situs megalitikum yang sangat terkenal di mancanegara (sayang di negeri ini tak terkenal ya.)

Berkunjung ke lembah Megalitum bak terlempar jauh ke masa prasejarah di mana manusia belum mengenal tulisan. Selain Tadulako, salah satu arca yang fenomenal adalah Patung Sepe, yang biasa disebut pula Arca Miring, karena posisinya berdiri seperti Menara Pisa di Roma, Italia. Tak ada yang tahu pasti kenapa Patung Sepe ini posisinya miring.

Untuk menuju ke lembah bada, memang tak mudah. dari kota Palu, kami berkendaraan mobil menuju kota tantena poso selama hampir 9 jam. (ya agak santai perjalanan kami diiringi makan ikan bakar di daerah pantai Lebo

kami kemudian bermalam di kota kecil Tantena yang pernah terkena  imbas kerusuhan poso yang menyakitkan. paa bergi harinya dari kota tantena kami menuju lembah bada. Jarak  tempuh normal ke lembah bada biasanya hanya 3 jam.. namun jam bisa bertambah karena jalan yang super buruk. jalan rusak menyebabkan perjalanan tertunda bahkan paling buruk bisa bermalam di hutan bila tanah longsor menutupi jalan. tapi perjalanan ini dibawa enjoy saja. nikmati aja perjalanan ini meskipun sulit.

Saat ini, sebagian besar arca yang ditaksir berusia sekitar 3000 – 4000 SM itu masih berada di situs alamnya di Lembah Napu, Bada dan Besoa di Kecamatan Lore Utara dan Lore Selatan, Kabupaten Poso. Sementara sebagiannya sudah dibawa ke Museum Negeri Sulawesi Tengah.
Arca megalitikum semacam ini adalah hal yang langka di dunia karena hanya terdapat di Napu, Besoa, Bada dan di Marquies Island, Amerika Latin.

Dr Albertus Christiaan Kruyt (1869-1949) dan Dr Nicolaus Adriani yang tiba di Poso pada 1895, dua orang misionaris dan juga ahli etnografer Belanda, mencatat sebelum masuknya Belanda ke Poso pada 1908, masyarakat Poso masih memperlakukan penguburan mayat-mayat anggota suku mereka di dalam batu maupun kayu. Sebagai bukti, sampai sekarang kita masih bisa menyaksikan Goa Latea, salah satu situs penguburan di dalam kubur batu dan goa-goa di Tentena, Sulawesi Tengah, sekitar 300 kilometer dari Palu, Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tengah.

Dibanding situs-situs arkeologi lainnya, situs ini kurang mendapat perhatian. Padahal kita tahu usia arca-arca megalitikum itu lebih tua daripada Borobudur.
Sulteng memiliki 1.451 buah arca dari situs megalitikum yang terseber di Lembah Napu, Lembah Bada dan Lembah Besoa, Kabupaten Poso. Diperkirakan situs megalitikum Sulteng adalah yang terluas di Indonesia.






1 komentar:

gadis sinubu mengatakan...

Trima kasih atas kunjunganya ke Lembah Bada.,